Kopi Darat Manusia Super

Jam menunjukkan 16.15 suara halo-halo (red. speaker) stasiun udah mulai mengudara “hati-hati dari jalur utara kereta penataran tujuan akhir blitar segera datang”. Buset deh pantes tadi aku telat kereta tiba lebih awal 5 menit dari jadwal di tiket 16.20. Tapi salut deh buat PT KA yang telah berusaha on time (ini sih in time ya *_*).

Semua excuse segera dikirim untuk menghindari idiom-idiom “wes jamur, wes bongkoten, wes kondean” dan sebagainya. Juga untuk menghindari peminjaman benchmarknya Mumun “sori rek, wes suwi yo”.

Untung kretanya tak berjalan seperti kuro. Kedatangan jadi lebih cepat setengah jam dari jadwal di tiket 18.50. Amazing, baru kali ini aku naik kereta ga telat dan bisa in time. Padahal aku udah mikir2 kalo datangnya udah malem pasti nongkrongnya malem dan tidak bertahan lama.

SMS dikirim “Jack, tak tunggu di masjid dekat telkom”. Tak begitu lama menunggu, dengan berkendara knigh rider nya Jack datang sekonyong-konyong koder. Kaget aku dibuatnya, tak pikir mau menciduk para gelandangan, hahaha.

Langusung menuju TKP, rumahnya (red. kos) Fari yang selalu diliputi oleh kekuatan kegelapan. Mbok ya o, dibelikan lampu oblik kalo ga mampu bayar listrik. Banyak kesabaran harus dicurahkan demi menunggu nona satu ini. Katanya aku “aku wes leyeh-leyeh”.

TKP kedua tempat makan Cak Pi’i, dengan menebalkan muka dan telinga jika ditawari pilihan tahu telur makan dikosan atau ayam goreng tanpa tulang di Cak Pi’i, tentu orang yang berpikiran waras akan langsung pilih Ayam Goreng tanpa tulang Cak Pi’i. Selain makan, pasti nanti ada cemilan2nya.

Ternyata dan ternyata mereka berdua Jack dan Fari sudah menguntal makan malamnya. Wots! hanya aku saja yang makan. Tapi ok lah, cap ratu ini. PAsti nikmat.

Kejadian dilanjut dengan cerita-cerita kehidupan yang tak akan lekang. Betapa kami telah melalui banyak hal selama perpisahan yang lama (padahal belum setahun lalu masih ketemu). Untuk ukuran orang dengan hobi ngomong (catet bukan ngomongin orang, tapi kalo khilaf ya gpp). sehari tak ketemu adalah cobaan yang berat, apalagi berbulan-bulan. Bang Toyib saja 2 kali lebaran dan 2 kali puasa tak pulang-pulang, apa coba.

Perbincangan dilanjut dan jangan lupa satu hal yang penting disetiap kesempatan, kamera. Sebelum berbincang kami berpose dulu kanan-kiri tak peduli orang kanan-kiri (emang lagi sepi). Itu adalah kewajiban sebelum aktifitas dimulai.

Sambil ngobrol-ngobrol, basa-basi yang paling utama saat lapar sudah datang, ayam goreng tanpa tulang, yummi.

Lirik ke arah Jack, Fari jadi heran tidak biasanya mereka tidak makan, hanya aku yang makan. Ini adalah keajaiban yang pernah ada. Teman-temanku sedikit berubah menjadi beradab, hahaha. Minuman pun diantar oleh sang pramusaji. Dan ini yang tidak berubah, saling comot makanan sana-sini. But I love it karena dengan biaya yang sedikit bisa mencoba banyak hal, ingat prinsip ekonomi dengan modal sedikit bisa untuk dengan banyak.

Sayang hanya disayang yang datang hanya tiga ekor orang, yang lain masih entah dimana. Yang penting mah setiap kali bertemu selalu ada dokumentasi, so yang lain biar pada melongo.

Advertisement

7 Comments

  1. SayPhya said,

    May 5, 2010 at 2:17 pm

    wekkkkekekek, aku malah sek lom sempat untuk menuangkan imajinasiku bro… :D
    insy as soon as posible, tahx untuk kedatangnnya

    -hem, oke ntr tak sampekan ke mbok kos, lah lek depan tak kasih lilin, engko dikira kosanku menganut aliran sesat xxixixixixi :D

    insy semoga kita bs ketemu dalam keadaan yang lebi baek , amin…
    see you in the next schedule bro ;)

    • QuickMimikri said,

      May 5, 2010 at 2:39 pm

      Betul iku Nyai… Kan ga enak jika ada perjaka ting ting seperti aku datang menghampiri tanpa penerangan, dikira mau menculik kan ga lucu. InsyaALLAH pertemuan selanjutnya akan lebih baik. Amin

      • SayPhya said,

        May 6, 2010 at 8:00 am

        perjaka jare :D wekekekekkekke
        ealah pik , wong seng menculik podo2 ga due duite ae malah akan membawa petaka :P
        loh kan ndek ngarep wes tak wei anti setan , drmu wingi kok iso melbu yoh?
        eh enggak ding wingi drmu ga sampe melbu yo :D
        makane kok g melebur wekkekekeekke….

  2. Okit Jr. said,

    May 21, 2010 at 3:35 pm

    hahaha..
    iya..
    itu memang..
    kosan-e fari sungguh tak beradab.. gelap pekat..
    mbok yo… disumbangi lampu petromax to mbak yuuuu..

    –eh..
    aku kok dadi bingung kiy..
    kalian ini sebenernya makan dimana seeh…??
    cak pi’i opo pondok cabe..
    –eh.. jenenge opo tho kuwi.. lali.. hihihi.. :)

    • quickmimikri said,

      June 16, 2010 at 8:10 am

      Betul iku pak cik mosok lampu teplok ae ga duwe, di jaman modern ngene iki sek gelap gulita, Mending nang ngarepe kosan fari iku dibakari menyan, ben sangar pisan, sekalian undang2 mbak kunti karo mbak sundel, hihihi

      • SayPhya said,

        June 16, 2010 at 9:02 am

        lho ya ojok salah :evil:
        dikosanku bukan sekedar lampu templok yo…

        aku wes gawe tenaga diesel… gawe lampu chas 8-)

        loh masio enggak diceluk malah kadang teko dewe :P setanya juga kadang teko dewe -melirik mimikri :mrgreen:

    • SayPhya said,

      June 16, 2010 at 8:55 am

      untuk makannya di cak pi’i pakde :roll:

      itu nama tempat yang terselaamatkan tidak digunakan oleh kita untuk melakukan hal hina :mrgreen:


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.