Tuduhan Memang Kejam

Kebiasaan pagi-pagi, beruntung saya dilahirkan sebagai manusia normal seperti kebanyakan orang (yang tidak seperti kebanyakan berarti tidak normal  *implikasinya begitu) sebelum mandi pagi melakukan ritual meditasi mengeluarkan ilmu hitam (biar kulit tak hitam) termenung membuat gunung sambil menikmati rasa kantuk yang masih bercokol. Kalau satu ritual wajib pagi ini sudah dilaksanakan ritual wajib lainnya adalah  mandi luluran sabun mandi sambil bernyanyi “Bebek adhus kali” (Bebek mandi di kali).

Suddenly, saya baru sadar kalau saya sudah kehabisan stok baju kerja, Oh My Boss kenapa di hari ini yang setelah berhari-hari kena lemburan malam sampai hari sabtu minggu kerja, otomatis urusan dapur rumah tangga udah terbengkalai. Udah bangun kesiangan, mana sempat lagi pake make up, hosh hosh.

Langkah malu-malu dari makhluk yang lemah ini untuk mengambil stok baju di lantai dua. Dengan dandanan ala kadarnya (maklum buru-buru tak sempat pake pupur a.k.a bedak tabur) sambil memilah dan memilih yang manakah baju saya? Perlu diketahui kosan yang saya tempati ini juga menyediakan fasilitas loundry untuk bersama, jadi satu lemari bisa ada baju milik semua orang. Perlu waktu juga untuk menemukan diantara tumpukan baju-baju itu.

Bermuka panik karena jam masuk kantor sudah datang mengejar saya yang masih berbahagia melakukan aktifitas durjana ini. Ada orang tak dikenal menyapa. Atas dasar menghargai hak asasi manusia dan rasa tolerasi serta teposeliro yang telah diajarkan guru saya waktu masih SD dulu *bernyanyi Hymne guru, dengan senyuman paling sumringah saya berikan. Dialog pun terjadi antara saya dan orang tak dikenal tersebut.

X: “Kerja di sini mas? “

Saya: “Maksudnya mas? “

X:”Mas kerja di kos-kosan ini? Kok pembantunya mana ya?”

Saya:”…. ???? “

Segala rangkaian harapan bahagia yang telah saya bangun hari ini setelah berhari-hari lembur runtuh dengan seketika. OMG… saya dikira pembokat?? Ala mak jang… Maaaak anakmu di perantauan di dzolimi….

Memang saya belum ber make up mas! Masih belum tebal dempulnya.

Saya: “Oh, enggak mas, saya kos juga di sini.”

Benar-benar tuduhan yang menyiksa batin ini. Dengan langkah gontai tak berani lagi membangun harapan kebahagiaan di pagi ini. Untung tadi saya tidak tahu nama dari orang itu. Kalau saja tahu pasti saya sudah menerbangkan santet.

 

 

 

 

Advertisement

8 Comments

  1. Okit Jr said,

    March 1, 2011 at 12:36 pm

    —puk puk puk…
    –ehem…
    maap, dek… nyonya-nya ada di rumah…??

    • quickmimikri said,

      March 29, 2011 at 10:04 am

      Iya Ohm, mau menggauli nyonya saya??? *plak-plak

  2. SayPhya Jean said,

    March 2, 2011 at 8:54 am

    wakakkakaka :D

    huem… kayae emang perlu deh dempul dan kondenya dipasang sebelum melenggok keluar… :roll:

    em, mas tolong dong angkatin jemurannya … *berlalu

    • quickmimikri said,

      March 29, 2011 at 10:05 am

      Iya jeung, bulan depan beli perlengkapan make up

  3. moens said,

    May 24, 2011 at 10:42 am

    bagus dong dikiro pembokat, pujian itu… brarti kastamu udh naik tingkat fik, dari tampang kacung jd pembokat. well done, keep the good works!! :) )

    • quickmimikri said,

      May 27, 2011 at 11:33 am

      Bagus Bik Moens… pujian anda memang mengesankan. *pasang susuk

  4. rathreee said,

    October 24, 2011 at 11:06 pm

    Pembantu => orang yang senang membantu, lebih mulia daripada penuduh :-D

    • quickmimikri said,

      October 29, 2011 at 12:43 pm

      Hahaha… tapi yo menusuk, hehehe


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.