Dan Air pun Berkisah

Airpun mengisi bumi dengan membawa kehidupan bagi semua makhluk. Suatu ketika air-air ini pun terlibat dalam suatu perbincangan. Air-air ini adalah Air Sungai (AS) yang senantiasa mengalir menggapai impiannya di suatu muara menuju kebebasan di samudra yang luas. Sedangkan air yang lain adalah Air Tergenang (AT) yang menikmati ketenangannya menunggu sebuah asa.

AS :Dikau air yang sedang tenang tergenang, tidakkah engkau mau ikut denganku?

AT:  Wahai engkau air yang mengalir kemanakah engkau hendak pergi?

AS: Aku ingin menjemput cita-citaku yang telah aku impikan sejak pertama kali aku keluar dari hulu.

AT: Tidakkah kau lihat di sana akan banyak batu-batu besar yang akan menyakitimu. Jika habis satu batu kau tabrak maka akan ada batu lain yang siap menghadang.

AS: Aku sudah membulatkan tekadku, walaupun akan ada banyak aral merintang.

AT: Terserah padamu lah, tidakkah kau lihat diriku yang nyaman dibuaian, angin berhembus membelaiku.

Waktu pun berganti. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun.

Sang air sungai pun berhasil menuju peraduannya -laut lepas nan luas, selama perjalanannya dia telah membantu menyambung kehidupan makhluk-makhluk hidup yang lain. Sedangkan riwayat sang air tergenang semakin hari semakin menebarkan bau yang tak sedap, berubah warna menjadi kehitaman dan menjadi vektor penyebar penyakit.

English Tutor

Pengalaman pertama selalu mendebarkan. Ada rasa antusias, takut, gugup,gembira, semua tercampur menjadi satu. Pengalaman pertama mengajar Bahasa Inggris di salah satu lembaga kursusan Bahasa Inggris di Kampoeng Inggris Kecamatan Pare Kabupaten Kediri bernama ELFAST kependekan dari English Language As Foreign Application Standart memberi banyak warna dalam perjalanan  hidup ini. Syukur Alhamdulillah saya telah dipercaya menjadi staf pengajar speaking di ELFAST ini.

Saya dipercaya memegang kelas Grammar Speaking, kelas speaking yang bertujuan utama menegajarkan kepada penuntut ilmunya agar bisa berbicara bahasa Inggris dengan baik dan benar secara grammatical bahasa Inggris.

Setelah selama kurang lebih satu bulan lamanya menjalankan masa-masa “training”  menjadi tutor Bahasa Inggris sudah saatnya saya harus lepas kandang menunjukkan taring-taring ini.

Hari pertama mengajar Bahasa Inggris sebagai bahasa kedua setelah bahasa Indonesia, murid-murid yang hadir di kelas ada sepuluh orang banyaknya. Lumayan banyak kalau untuk hitungan pemula seperti saya, hal itu juga tak bisa dipungkiri dari nama besar tempat saya bekerja.

Hari kedua, jumlah siswa menurun menjadi 8 orang saja.Kecil hati ini jadinya, baru hari kedua muridnya sudah hilang dua. Usut punya usut, kedua murid tersebut berpindah ke kelas lain dengan alasan kurang bisa mengikuti jalannya pembelajaran karena merasa kurang mampu. Ada rasa lega juga karena bukan karena takut dengan tutornya, tapi sedih juga karena harus tinggal 8 orang murid saja, tetapi show must go on.

Mengajar itu bukan sesuatu yang gampang ternyata  dan saya merasa salut kepada para guru di Indonesia yang telah berhasil mengantarkan anak didiknya berhasil mendapatkan ilmu untuk menapaki kehidupan. Saya tetap mengajar dengan kelebihan dan kekurangan yang ada pada diri saya. Mengajar kelas speaking tak semudah yang saya kira. Saya juga dituntut untuk kreatif menciptakan suasana kelas yang tidak membosankan, menjadikan siswa-siswa tersebut tetap bersemangat belajar ternyata butuh perjuangan ekstra keras.

Kendala yang saya hadapi adalah setiap hari saya mengajar dua kali untuk kelas yang sama, terutama untuk sesi kedua karena proses pembelajaran berlangsung siang hari jam 11.30 saat hari terik dan panas-panasnya. Hal ini saja bisa membuat siswa dengan enggan datang ke kelas, atau siswa mengambil program lain dan harus dengan terpaksa meninggalkan kelas saya.

Saya masih mencari bagaimana cara mengajar yang baik. Saya banyak mencari informasi, baik dari browsing internet, membeli buku-buku tentang bahasa Inggris, mengikuti kelas orang lain untuk mengetahui cara mengajar bahasa Inggris agar kelas tidak bosan, agar teman-teman didik saya menjadi kerasan dan nyaman dengan kelas dan gurunya.

Hari pertama dan kedua saya hanya bisa berharap bisa melewati waktu-waktu mengajar bisa berjalan cepat. Apa jadinya, kelas menjadi sangat membosankan dan hal ini bisa saya rasakan juga dari ekspresi wajah-wajah siswa-siswa tersebut dan hal ini benar-benar membuat saya khawatir sekali.

Saya mengakui banyak hal yang kurang dalam mengajar bahasa Inggris, saya juga masih belajar dalam menggunakan bahasa internasional ini. Banyak hal yang perlu saya perbaiki. Tak bisa dipungkiri juga mungkin hati teman-teman didik saya terbersit sekilas “Apakah tutor saya yang di depan sedang mengajar saya ini seorang yang kompeten?” Pertanyaan sama juga muncuk dari diri saya sendiri. Ada rasa tanggung jawab yang sedang saya emban untuk mengantarkan teman-teman didik saya bisa mengerti apa yang sedang saya ajarkan.

Ada rasa bangga juga, saya bisa menjadi seorang guru bahasa Inggris, tanpa saya minta ada kata sandang baru yang melekat di nama saya Mr. begitulah teman-teman didik saya memanggil tak hanya di situ, ada beberapa teman diluar kelas yang memanggil saya seperti itu. Saya sebenarnya agak geli juga mendengarkan teman-teman memanggil saya dengan embel-embel Mr. sebagai kata sandang yang melekat di nama saya. Sebenarnya saya lebih suka dipanggil dengan nama saya saja.

Waktu dua minggu untuk suatu periode mengajar bahasa Inggris bukanlah waktu yang cukup. Saya hanya mengaacu pada kuriikulum sebagai panduan saya dalam mengajar. Namun hal itu saya rasa kurang mumpuni untuk membantu teman-teman didik saya untuk bisa, setidaknya memupuk kepercayaan diri untuk berbicara dalam bahasa Inggris. Saya juga merasakan dan bahwa waktu dua minggu adalah waktu yang singkat adanya. Menurut saya jika saya berposisi  sebagai seorang yang menuntut ilmu hal itu bukanlah waktu yang cukup. Dalam bahasa begitu banyak hal yan gseharusnya saya dapatkan.

Berikut adalah kutipan-kutipan kritik dan saran dari teman-teman didik saya ketika kelas pertama saya berakhir.

“Assalamulaiakum….

Saya senang bisa bergabung di kelas Grammar Speaking, bisa punya kenalan baru.

Saya merasa kemampuan saya berbicara dengan Bahasa Inggris jauh lebih baik berkat bantuan Mr. Fikri dan teman-teman lainnya.

Kelas ini sudah berakhir tapi masih boleh konsul kan Mr. Fikri! He… he…

Terima kasih atas bantuan dan motifasinya selama ini, saya akan selalu mengenangnya.

Wassalam…”

“1. Harus lebih terstruktur lagi dalam menyampaikan materi.

2. Harus konsisten terhadap metode yang digunakan selama ini.

3. Harus bisa meningkatkan semangat perserta didik.

4. Perbanyak soal latihan grammar.

5.Perbanyak waktu presentasi.”

“Saran : Tingkatkan kualitas, harus lebih tegas J

Pesan: Di awal program harusnya dikasih rincian pembelajaran selama 2 minggu, jadi kita bisa mempersiapkan sebelumnya.

Kesan: Merasa jauh lebih baik setelah belajar di program ini meskipun Cuma 2 minggu. saya harap dapat bertemu kembali di lain waktu. Terima kasih J”

“1. Mr. Fikri baik dan sebaiknya lebih baik lagi nantinya.

2. Lalu sebaiknya member materi dengan lebih luwes, lebih menyenangkan.

3. Kasih semangat ke teman-teman juga dengan lebih menyenangkan biar teman-temannya yang lain lebih semangat lagi.

4. See ya… J”

Itu lah komentar-komentar, saran-saran, kesan-kesan, kritik-kritik yang diberikan kepada saya selama mengajarkan materi program Grammar Speaking kepada teman-teman didik saya.

Terima kasih untuk semuanya, kerjasamanya, semangatnya. Semoga saya bisa konsisten dan istiqomah dengan jalan yang saya pilih.

Sukses selalu untuk kalian. Beni, Hury, Cyin-Cyin, Andri, Ratna, Sule, Arif.

Mbah Tarjo Sang Veteran

Aku, Tarjo, 83, Sang Veteran Perang

Usiaku boleh saja sudah senja, tapi semangat itu selalu membara, sama seperti saat-saat aku berjuang membela kewibawaan negeri ini.

Senyum yang tersungging dari bibirku yang sudah dipenuhi keriput benar-benar bisa kurasakan kenikmatannya. Bebas, lepas  dan jauh dari rasa was-was.

Kalau menoleh ke kebelakang, sungguh hari ini adalah sebuah berkah yang tidak ternilai. Betapa kehadiran hari ini seperti suatu hal yang mustahil. Tapi Tuhan berkehendak lain, di umurku yang sudah kepala delapan, aku bisa menyaksikan anak cucuku tumbuh kembang dalam perdamaian, tanpa terdengar suara dentum meriam ataupun letup senapan.

Terkenang di ingatan “Kawan, perjuangan kita di medan gerilya bukanlah untuk kita. Biarlah generasi mendatang hidup merdeka .”

Suara Malam

Tahukah kenapa disaat rasa sendu tiba, menjadi melankolis, semua kekuatan alam menyelimuti, menuliskan semua syair-syair pujangga yang telah lama tidur terbuai mimpi-mimpi

Suara binatang malam, semilir angin berhembus membelai dedaunan, menemani malam.

Rembulan tak juga segan membagi sinarnya yang temaram. Berjalan sesekali tertutup awan.

Siapakah gerangan tuan yang berjalan malam-malam sendirian. Mengayunkan kaki ke belakang ke depan. Tidak seorangpun mendampingi sang tuan, sungguh malang nian.

Garis-garis kehidupan yang terukir jelas terpahat dikulit-kulitnya yang tak lagi muda. Tulang-tulangnya yang tegak tapi rapuh juga.

Bimbang….

Bimbang… bukan nama grup musik kasidah yang menyanyikan lagu “Sajadah Panjang”. Rasa itu muncul semerta-merta. Datang tak diundang nanti pulangpun sendirian.

Di dunia ini memang kita memang dituntut untuk berani. Salah satunya dimana akan tinggal dan dimana akan bekerja. Jangan seperti dirku ini yang penuh dengan kebimbangan.

Tak terelakkan sudah, tidur tak pernah nyenyak pada akhirnya. Menjadi insomnia ataupun terbangun tengah malam. Hari-hari menjadi tak bergairah. Hanya ketika melihat langit mendung hati ini akan merasa gembira. Benar-benar sebuah ironi yang terjadi kepadaku jika hati ini sedang bimbang.

Suatu keputusan benar-benar dibutuhkan disini. Sebuah keputusan yang menghapus rasa bimbang sekaligus akan mengubah arah langkah selanjutnya.  Jika kita singgah di suatu persimpangan jalan, maka dengan mudah kita dapat bertanya kepada orang kemana arah yang ingin kita tuju, tukang ojekpun akan tahu jalan mana yang harusnya kita lalui.

But this thing will change your life forever after…

Tulis Tulis Tulis….

Menulislah sampai tangan ini patah.

Dulu sekali, ketika saya masih kecil dan lugu, tidak terlalu mengerti dengan hingar bingar dunia, mengartikan menulis adalah sesuatu yang berhubungan dengan kertas dan pena.

Perjalanan panjang mengantarkanku menuju sebuah definisi menulis yang lebih luas, tak hanya sebatas kertas dan pena saja. Bisa dimedia apapun seiring perkembangan teknologi yang bisa meluaskan kreatifitas dan bakat yang dimiliki seseorang.

Setelah membaca artikel yang dipaparkan di salah satu situs internet http://kesehatan.kompasiana.com terbukalah semua aura, cakra, mata batin ini akan banyaknya manfaat yang diperoleh seseorang ketika menulis.

Menulis bisa apapun yang kita inginkan asalkan tidak menimbulkan sesuatu yang bersifat SARA. Ekspresikan diri dengan menuliskan apapun yang memenuhi otak kita dengan cerita-cerita, obrolan dengan diri sendiri, pengalaman, dan apapun bentuknya. Jangan sampai menulis membuat kita menjadi terkotak-kotak dengan apa yang ingin kita tulis. Tulisan kita bisa saja menjadi inspirasi bagi orang lain yang membaca tulisan kita, membuka cakrawala baru atau mengubah sudut pandang terhadap suatu masalah bagi seseorang.

Berdasarkan pengalaman banyak orang, memulai sesuatu yang baru itu memang terkadang sulit, namun tak ada seribu langkah tanpa langkah pertaman yang mengawalinya. Begitulah, awal untuk menulis mungkin memang berat bagi orang yang baru saja memulainya, perlahan tapi pasti semua akan menjadi mudah.

Bisa saja  kita tidak tahu apa yang mau kita tulis, mungkin saja tulisan kita jelek, tidak menarik bagi orang lain. Semuanya memang butuh proses, usaha, perjuangan yang tidak gampang. Seekor anak ayam yang akan menetas butuh perjuangan untuk memecahkan cangkang dengan paruh kecilnya yang belum pernah teruji kekuatannya, namun sedikit demi sedikit namun pasti cangkang itu bisa pecah juga dan anak ayam bisa bebas dari kurungan cangkangnya. Bahkan segala bentuk kehidupan kita juga membutuhkan usaha dan perjuangan.

Apapun yang kita liat dapat kita jadikan sebuah cerita di tulisan kita, apapun yang kita bayangkan bisa menjadi cerita yang dahsyat. Siapa yang menyangka seorang J.K Rowling menjadi terkenal dengan novel Harry Potter yang menjadi novel terlaris sepanjang jaman. Novel ini pun digandrungi banyak anak muda di masanya.

Yang sedikit akan menjadi banyak jika kita tetap konsiten untuk terus melakukannya. Ayo kita menulis…

Tuduhan Memang Kejam

Kebiasaan pagi-pagi, beruntung saya dilahirkan sebagai manusia normal seperti kebanyakan orang (yang tidak seperti kebanyakan berarti tidak normal  *implikasinya begitu) sebelum mandi pagi melakukan ritual meditasi mengeluarkan ilmu hitam (biar kulit tak hitam) termenung membuat gunung sambil menikmati rasa kantuk yang masih bercokol. Kalau satu ritual wajib pagi ini sudah dilaksanakan ritual wajib lainnya adalah  mandi luluran sabun mandi sambil bernyanyi “Bebek adhus kali” (Bebek mandi di kali).

Suddenly, saya baru sadar kalau saya sudah kehabisan stok baju kerja, Oh My Boss kenapa di hari ini yang setelah berhari-hari kena lemburan malam sampai hari sabtu minggu kerja, otomatis urusan dapur rumah tangga udah terbengkalai. Udah bangun kesiangan, mana sempat lagi pake make up, hosh hosh.

Langkah malu-malu dari makhluk yang lemah ini untuk mengambil stok baju di lantai dua. Dengan dandanan ala kadarnya (maklum buru-buru tak sempat pake pupur a.k.a bedak tabur) sambil memilah dan memilih yang manakah baju saya? Perlu diketahui kosan yang saya tempati ini juga menyediakan fasilitas loundry untuk bersama, jadi satu lemari bisa ada baju milik semua orang. Perlu waktu juga untuk menemukan diantara tumpukan baju-baju itu.

Bermuka panik karena jam masuk kantor sudah datang mengejar saya yang masih berbahagia melakukan aktifitas durjana ini. Ada orang tak dikenal menyapa. Atas dasar menghargai hak asasi manusia dan rasa tolerasi serta teposeliro yang telah diajarkan guru saya waktu masih SD dulu *bernyanyi Hymne guru, dengan senyuman paling sumringah saya berikan. Dialog pun terjadi antara saya dan orang tak dikenal tersebut.

X: “Kerja di sini mas? ”

Saya: “Maksudnya mas? ”

X:”Mas kerja di kos-kosan ini? Kok pembantunya mana ya?”

Saya:”…. ???? ”

Segala rangkaian harapan bahagia yang telah saya bangun hari ini setelah berhari-hari lembur runtuh dengan seketika. OMG… saya dikira pembokat?? Ala mak jang… Maaaak anakmu di perantauan di dzolimi….

Memang saya belum ber make up mas! Masih belum tebal dempulnya.

Saya: “Oh, enggak mas, saya kos juga di sini.”

Benar-benar tuduhan yang menyiksa batin ini. Dengan langkah gontai tak berani lagi membangun harapan kebahagiaan di pagi ini. Untung tadi saya tidak tahu nama dari orang itu. Kalau saja tahu pasti saya sudah menerbangkan santet.

 

 

 

 

Gigiku sayang gigiku malang!

Duuuhhh, kenapa gigi ini kok bengkak seperti ikan mas koki ya… Rasa sakit yang tak tertahankan kembali melanda gigiku ini. Tampak depan, muka ini sudah cubby seperti orang sedang nginang (a.k.a makan daun sirih). Mengerjakan skripsi yang udah dikejar target jadi ga konsen, sakitnya minta ampun. Aku lebih milih makan steak daripada sakit gigi (lo ga ada korelasinya ya (_ _ !) ). Memang sakit gigi ini datangnya tidak kira-kira, tidak tahu juga kalo skripsi ini udah nunggu untuk dikerjakan dari setahun yang lalu (huff!!).

Reaksi-reaksi tetangga dan orang-orang.

X :”kenapa mas?”

Me: “sakit gigi.” Dengan sedikit tersenyum kecut dan dongkol dalam hati, udah tahu orang sakit gigi ga bisa ngomong, nah ni orang membuat statemen yang membutuhkan aku untuk menjawabnya. Dasar orang pura-pura ga ngeliat kali.

X:”ga pernah sikat gigi ya mas.”

Me:”Ini karena kebanyakan sikat gigi tahu.” Sampil menopang pipiku yang berat sebelah macam menara Pisa yang miring sebelah (hehehe). Buset dah, malah menghina, bukannya nolongin.

Dari pada pipiku tambah cubby gara-gara meladeni si X ngomong yang tidak memberikan solusi lebih baik aku tinggal saja.

Ke esokan harinya aku langsung meluncur ke dokter gigi Medical Center, dengan segala harapan setinggi langit, dan mengharap keajaiban dokter gigi punya mantra dan jampi-jampi yang bisa menyembuhkan luka ini dalam sekerlip mata.

Medical Center

Setelah registrasi di bagian front office dan si mbak dengan lembut bilang “Tunggu sebentar ya mas.” Dengan senyum yang aku paksakan karena memang untuk senyum saja aku sulit, apalagi sekolah (ingat iklan wajar 9 tahun).

Ok, fine. 5 menit pertama tak terjadi apa-apa, aku masih seperti saat pertama datang, sakit gigi ini… 5 menit kedua aku masih merasakan keheningan, namaku belum juga dipanggil. 5 menit ketiga aku sudah mulai cemas, gelisah dan keringat dingin keluar, tak seorangpun menyebut namaku. Aku mulai berimajinasi. Pertama, ah mungkin masih banyak pasien jadi harus antri (kenyataannya pasiennya hanya aku dan satu orang yang juga menderita lahir batin). Kedua, apakah gerangan yang sedang terjadi di ruangan poli gigi? Perkelahian antara dokter dan pasienkah, atau tindakan asusila kah?

Setelah cukup ditelantarkan dan menderita lahir batin akhirnya sayup-sayup namaku dipanggil dari ujung lorong (jika tak segera dipanggil langsung sakit jiwa).

Dokter :”Keluhannya apa mas?”

Me :”Sakit gigi dokter…”

Dokter :”Sakitnya kenapa?”

Me:”Ga tahu nih, padahal giginya tidak lubang, tapi bisa bengkak segede gambreng.”

Dokter: “Ohh, kalo begitu silakan duduk dikursi pesakitan.”

Ok segera laksanakan perintah tuh dokter. Duduk dengan rileks. Setelah melihat sekilas sekeliling, semua ruangan berwarna putih, jadi aku semakin keliatan kalo hitam (ini gara-gara pake produk lain (_ _ !)). Anganku melayang-layang. Alat-alatnya disterilkan ga ya?? Aku pasrah saja dari pada tanya macam-macam dan kalo ternyata imajinasiku benar bahwa alat-alatnya tidak disterilkan dulu, huaaaaaaa (T_T). Lebih baik tidak tanya dan tidak tahu dan pura-pura tidak tahu.

Setelah mulut ini disodok2 dengan alat-alat unik yang aku tak tahu namanya, dengan meringis2 masih aku tahan derita kehidupan ini.

Dokter: “Itu gusinya bengkak.” Aku hanya manggut2.

Dokter: “Tumbuh tidak normal”. Wots aku pikir hanya pertumbuhan tubuhku yang tidak normal (kurang tinggi hehehe), ternyata gigi bisa juga tumbuh abnormal.

Dokter memberikan resep yang harus aku tukar dengan obat di apotek MedCen.

Tiba-tiba dan tak dinyana si dokter bertanya lagi.

Dokter:”Itu cincin kawin mas? Sudah menikah mas?”  Aku langsung berpikiran aneh2. Wah jangan-jangan dokter ini mau melamarku, hihihihi.

Dokter:”Cincinnya sama dengan cincin kawin saya”.

Me:”Ohhh. Saya belum menikah kok dokter.” Kirain saja.

Dokter:”Oh sudah tunangan ya? Dapat orang mana? Dari kampus ini juga?”. Buset dah si dokter tanyanya macem-macem. Daripada nanti tanya macem2 lagi atau aku diminta jadi menantunya, langusng saja aku jawab

Me:”Iya udah, orang lumajang juga Dok”.

Dokter: “Gitu saja kok malu mas”.

Aku langsung tersipu, memerah merona pipiku (seperti lirik lagunya Gita Gutawa-Harmoni Cinta).

Apotek

Terkejut ku terkejut. Obatnya gede-gede. Segede kerikil jalanan. Gimana minumnya ya???? tapi positipnya adalah semuanya free alias ratu (ora tuku) alias gretong alias gratis. Lumayan lah bisa buat jajan uangnya , hehehe

Kebiasaan Ajaib Penghuni Kosan

Beringas 2

Kalau orang bilang kegiatan sehari-hari mahasiswa ITS adalah untuk belajar dan menyibukkan diri di kampus. Kebiasaan mereka, mahasiswa ITS tak lepas dari buku-buku, diktat, laporan praktikum dan sebangsanya. Anggapan orang memang boleh apa saja, halal kok berpendapat, tak tanggung-tanggung bangsa Indonesia telah menjaminnya dalan Undang-undang Dasar, wow betapa berpendapat itu sangat dianjurkan. Ibarat berzakat yang seharusnya 2,5% maka lebih afdol jika ditambah. Begitupun berpendapat akan lebih afdol jika banyak orang yang berpendapat (Ingat pendapat disandingkan dengan zakat maka konotasinya adalah pendapat yang halal dan afdol adalah pendapat yang baik).

Soal Mandi.
Sesuai dengan judul dan keunikan orang-orang yang ada di dalam satu atap gebang wetan 21A “beringas” kebiasaan-kebiasaan mereka sebagai mahasiswa ITS bisa dibilang tidak biasa, ada yang memerlukan waktu minimal setengah jam kalau harus mandi(ini ngapain saja di dalam kamar mandi?). Kalau dikalkulasi secara ilmu falak, saat masuk kamar mandi di pagi hari pasti kejar setoran dulu (red. Pup). Sebagai mahasiswa ITS yang nota bene identik dengan waktu yang sempit seharusnya hal ini bisa digabung dengan sikat gigi, so dalam satu waktu mengerjakan dua aktifitas, kalau dalam dunia informatika dikenal dengan istilah multitasking. Perkirakan saja waktunya adalah 5 menit, dengan berpositif thingking, hari kemarin telah makan cukup serat sehingga kejar setorannya lancar, kalau bernegatif thinking, hari kemarin banyak makan makanan tidak sehat seperti, kerikil, paku, silet maka bisa dipastikan tak diperlukan lagi kejar setoran tapi pembedahan saluran pencernaan alias operasi. Bersabun dan bershampoo perkirakan saja 5 menit, karena badannya sendiri yang disabun bukan milik orang lain (yang ini haram dilakukan jika bukan mahrom atau dalam kondisi darurot, misalkan memandikan orang mati). Kemudian dibilas sampai bersih sekaligus berpakaian kira-kira 5 menit. Jadi kalau butuh 30 menit itu sepertinya terlalu lama. Kita sebagai manusia harus berpisitif thinking, mungkin saja sedang menguras bak mandi, menggosok lantai kamar mandi agar tidak licin. Ingatlah berpisitif thinking selain menghindarkan dari pertengkaran hingga tujuh turunan juga berpahala lho.

Bernyanyi.
Bernyayi bagi penghuni kos ini semacam fardhu ‘ain saja. Mereka pun sangat berbakat dalam bernyanyi. Teknik vokal yang digunakanpun tidak main-main, mulai pernapasan perut, pernapasan paru-paru, pernapasan bawah (red. kentut). Aliran musik yang diusung pun beragam macam. Mulai dari campur sari modern, sereosa (yang ini cuma aku yang bisa ^_^), dangdut, pop, alternatif (suara panci, wajan, sutil dan semua peralatan dapur hehehe…), R&B, rock (bukan rock yang dipake Mbak2 lo). Mereka juga tahu macam-macam bagaimana memproduksi suara, suara bas, bariton (macam sungai di Kalimantan ya…), falseto, dan karena kebanyakan falseto maka seperti pemenggalan kata dalam bahasa Indonesia hanya kata false-nya saja yang tersisa. Sumpah kalo bernyanyi semacam orang teriak2, maki-maki ga jelas, yang lebih parah anjing saja yang suara gonggongannya menakutkan manusia malah takut kalo sampe mendengar suara mereka, bisa dibayangkan kalo hantu dan segala macam yang halus2 tak betah tinggal lama-lama dengan mereka maklum saja kedokteran THT di dunia halus sama mahalnya dengan dunia kasar (yang ini aku sok tahu). Apalagi kalo harus kamar mandi, ini juga menjadi salah satu faktor kenapa kamar mandi sudah menjadi semacam studio musik pribadi (ingat statemen di awal mahasiswa = harus irit). Mereka juga bisa bernyanyi ala dunia fauna, mulai suara “jangkrik”, “anjing”, “asu”, “kerek”, (tanda petik menunjukkan suara itu terdengar sesuai dengan kata-kata dalam apitan tanda petik). Sebenarnya sih ada kata yang cukup mewakili itu semua, cukup katakan saja kebun biantang, lebih lengkap kan karena didalamnya ada bermacam-macam hewan seperti macan, singa, monyet, ular, burung dari pada harus menyebut satu-satu (ingat juga prinsipmahasiswa = irit).

Main Remi.
Bermain remi adalah permaian rakyat modern minimalis. Mengertilah sodara-sodaraku, sebagai anak kos masalah keuangan adalah masalah yang crussial, oleh karenanya untuk menghemat anggaran gunakanlah prinsip-prinsip yang masih berlaku, jangan lupa lihat tanggal kadaluarsanya. Remi harganya murah dan bisa dimainkan oleh banyak orang. Dengan sedikit keluar uang tapi semua happy. Sebenarnya ada permainan yang tidak harus mengeluarkan uang sama sekali dan bisa dimainkan oleh banyak orang seperti contohnya “Bentengan” (ini hobbyku waktu kecil dan selalu menang karena larinya paling cepet). Permainan ini sangat seru dimainkan rame-rame tetapi tidak memungkinkan lagi untuk dilakukan karena pertimbangan beberapa hal. Pertama tak ada lahan untuk pelampiasan, kedua kemungkinan ibu-ibu pengajian akan marah-marah karena dianggap kita bersaing dengan anak-anak mereka (mahasiswa vs siswa sd, secara logika pasti menang mahasiswa). Ketiga tidak mungkin melakukan kebiadaban beradu mulut dengan pengguna jalan karena jalannya ditutup untuk bermain bentengan.
Perlu diingat, tips untuk bermain remi agar menang, hindarilah menghadap kiblat (kalo menghadap kiblat hanya untuk sholat dan hal2 yang baik).

Kejar Tayang.
Kejar tayang (red. Pup) yang tidak teratur adalah juga kebiadaban yang sering mereka lakukan, tapi ada untungnya juga karena kalo biasanya orang tayang di pagi hari, mereka biasanya tayang secara berurutan. Untungnya adalah mereka tak perlu mengantri kamar mandi untuk sekedar termenung dan membuat gunung. Kebayangkan kalo seisi kosan yang berjumlah 11 orang harus ngantri kamar mandi untuk kejar tayang, betapa semua sumpah serapah akan keluar, seisi kebun binatang akan datang, kondisi muka yang bangun tidur tambah ancur gara-gara berubah warna jadi merah, ijo, hitam, kuning (keren kan seperti TV warna).

Ngumpulin sampah.
Aku juga ga abis pikir sih, kenapa bisa ada sampah ada di kamar ya??? sejak kapan manusia hidup dengan sampah? Mending ngumpulin berlian biarpun sedikit tapi bisa langsung kaya mendadak, nah ini ngumpulin sampah. tapi harus berpositif thinking lagi, katanya setalah aku melakukan investigasi “Biar ga ganggu yang lain, biar aku saja yang merasakan akibatnya”. Wow benar-benar mulia orang-orang ini tak mau berbagi keburukan hanya kebaikan saja yang mau dibagi. Mungkin sampah-sampah itu memilihi nilai historis sendiri jadi nanti dulu dibuangnya nunggu si empunya jenggotan. Ada juga anekdot mending pelihara kambing kalo besar bisa buat kurban, nah ini pelihara sampah. Aku tahu belakangan klo sampah-sampah bisa didaur ulang dan bisa menghasilkan duit (ingat prinsip mahasiswa = irit).

Kebajikan-kebajikan
Kalo dari tadi adalah keajaiban yang terjadi yang ini adalah anugerah Gusti Ingkang Maha Asih, mereka saling menyayangi, apalagi pas ada makanan, semakin disayang lah, hehehe. Suatu contoh kalo lagi musim hujan terus ada jemuran (bukan jamuran) pasti semua jemuran diselamatkan (termasuk juga pembalut segitiga, hehehe). Di dunia yang serba susah kalo tidak saling kerja sama dalam segala hal (kebiadaban juga termasuk @_@) seakan hidup seorang diri dan sepi, bisa dibuktikan, apalagi di kota Surabaya yang berprinsip “angkat pantat hilang tempat”, maka persaudaraan harus dipererat lagi.

Kopi Darat Manusia Super

Jam menunjukkan 16.15 suara halo-halo (red. speaker) stasiun udah mulai mengudara “hati-hati dari jalur utara kereta penataran tujuan akhir blitar segera datang”. Buset deh pantes tadi aku telat kereta tiba lebih awal 5 menit dari jadwal di tiket 16.20. Tapi salut deh buat PT KA yang telah berusaha on time (ini sih in time ya *_*).

Semua excuse segera dikirim untuk menghindari idiom-idiom “wes jamur, wes bongkoten, wes kondean” dan sebagainya. Juga untuk menghindari peminjaman benchmarknya Mumun “sori rek, wes suwi yo”.

Untung kretanya tak berjalan seperti kuro. Kedatangan jadi lebih cepat setengah jam dari jadwal di tiket 18.50. Amazing, baru kali ini aku naik kereta ga telat dan bisa in time. Padahal aku udah mikir2 kalo datangnya udah malem pasti nongkrongnya malem dan tidak bertahan lama.

SMS dikirim “Jack, tak tunggu di masjid dekat telkom”. Tak begitu lama menunggu, dengan berkendara knigh rider nya Jack datang sekonyong-konyong koder. Kaget aku dibuatnya, tak pikir mau menciduk para gelandangan, hahaha.

Langusung menuju TKP, rumahnya (red. kos) Fari yang selalu diliputi oleh kekuatan kegelapan. Mbok ya o, dibelikan lampu oblik kalo ga mampu bayar listrik. Banyak kesabaran harus dicurahkan demi menunggu nona satu ini. Katanya aku “aku wes leyeh-leyeh”.

TKP kedua tempat makan Cak Pi’i, dengan menebalkan muka dan telinga jika ditawari pilihan tahu telur makan dikosan atau ayam goreng tanpa tulang di Cak Pi’i, tentu orang yang berpikiran waras akan langsung pilih Ayam Goreng tanpa tulang Cak Pi’i. Selain makan, pasti nanti ada cemilan2nya.

Ternyata dan ternyata mereka berdua Jack dan Fari sudah menguntal makan malamnya. Wots! hanya aku saja yang makan. Tapi ok lah, cap ratu ini. PAsti nikmat.

Kejadian dilanjut dengan cerita-cerita kehidupan yang tak akan lekang. Betapa kami telah melalui banyak hal selama perpisahan yang lama (padahal belum setahun lalu masih ketemu). Untuk ukuran orang dengan hobi ngomong (catet bukan ngomongin orang, tapi kalo khilaf ya gpp). sehari tak ketemu adalah cobaan yang berat, apalagi berbulan-bulan. Bang Toyib saja 2 kali lebaran dan 2 kali puasa tak pulang-pulang, apa coba.

Perbincangan dilanjut dan jangan lupa satu hal yang penting disetiap kesempatan, kamera. Sebelum berbincang kami berpose dulu kanan-kiri tak peduli orang kanan-kiri (emang lagi sepi). Itu adalah kewajiban sebelum aktifitas dimulai.

Sambil ngobrol-ngobrol, basa-basi yang paling utama saat lapar sudah datang, ayam goreng tanpa tulang, yummi.

Lirik ke arah Jack, Fari jadi heran tidak biasanya mereka tidak makan, hanya aku yang makan. Ini adalah keajaiban yang pernah ada. Teman-temanku sedikit berubah menjadi beradab, hahaha. Minuman pun diantar oleh sang pramusaji. Dan ini yang tidak berubah, saling comot makanan sana-sini. But I love it karena dengan biaya yang sedikit bisa mencoba banyak hal, ingat prinsip ekonomi dengan modal sedikit bisa untuk dengan banyak.

Sayang hanya disayang yang datang hanya tiga ekor orang, yang lain masih entah dimana. Yang penting mah setiap kali bertemu selalu ada dokumentasi, so yang lain biar pada melongo.

« Older entries